ZAKAT DALAM SISTEM EKONOMI ISLAM

Dadang Hermawan

Bagikan:
  1. Pendahuluan

Zakat adalah rukun Islam yang ketiga setelah dua kalimat syahadat dan mendirikan salat.Abu Bakar telah menyiapkan pasukan untuk menggempur mereka yang membeda-bedakan antara salat dengan membayar zakat.Beliau mengungkapkan ucapan beliau yang termasyhur, “Demi Allah!Kalau mereka menolak untuk membayar zakat kepadaku meskipun hanya seharga tali unta, padahal dahulu mereka membayarkannya kepada Rasulullah, pasti akan memerangi mereka karena penolakan mereka itu.”Ajaran sunah yang suci telah memberikan batasan-batasan tentang harta apa saja yang wajib dizakati, nishab-nya(batas minimal), dan ukuran atau jumlah zakat yang diwajibkan dalam harta-harta tersebut. (As-Shawi, 447: 2013)

Dalam sebuah hadis riwayat Bukhari, berasal dari Ibnu ‘Umar dilaporkan bahwa zakat adalah salah satu fondasi Islam yang lima, sebagaimana dikutip oleh Rifyal Ka’bah, yaitu fondasi ketiga setelah syahadat dan salat.Fondasi-fondasi lainnya adalah puasa dan haji. Dengan demikian, bila zakat tidak dilaksanakan dalam masyarakat Muslim, maka posisi Islam dalam masyarakat tersebut akan menjadi oleng karena kehilangan salah satu fondasinya.

Perintah zakat diturunkan di Mekkah, tetapi rincian tentang jenis kekayaan yang wajib dizakatkan serta jenis kelompok masyarakat yang berhak menerimanya diturunkan di Madinahpada tahun kedua Hijriah setelah Nabi Muhammad saw. membentuk masyarakat dan negara.

Asal-usul pengertian zakat adalah pertumbuhan yang dihasilkan dari keberkahan Allah Swt. untuk kehidupan dunia dan akhirat.Kata “sedekah” juga digunakan untuk menunjukan pengertian zakat.Namun disamping pengertian “zakat”, kata ini juga berarti sebagai pemberian sukarela yang berdasarkan kerelaan hati. (Rifyal, 57:2004).

Zakat memberikan berbagai keuntungan kepada masyarakat Muslim. Pertama, sebagai kewajiban agama, zakat memberikan kepuasan dalam hati orang yang beriman karena ia telah dapat menunaikan kewajiban utnuk membantu orang yang membutuhkan. Dalam hal ini, Al-Qur’an mengatakan bahwa orang yang menggunakan hartanya siang dan malam di jalan Allah, baik secara sembunyi-sembunyi atau terang-terangan, akan mendapatkan ampunan dari Allah, dan ia tidak lagi akan merasakan khawatir dan sedih. Dengan membayar zakat, ia tidak perlu khawatir bahwa rezeki yang diberikan Allah kepadanya akan membuat kecemburuan dalam kelompok masyarakat sehingga orang miskin sampai menyakitinya atau merampoknya. Ia juga tidak perlu khawatir akan jatuh miskin dengan telah memberikan sebagian hartanya kepada orang lain, karena Allah telah menjanjikan keberkahan dan pertambahan kepada harta yang sudah dibersihkan melalui zakat dan sedekah.

Kedua, zakat secara ekonomi menjadi pendorong yang kuat bagi investasi. Modal yang menganggur dalam masyarakat Islam akan berkurang sebanyak 2,5 persen setiap tahunnya karena terkena wajib pajak. Untuk menghindari pengurangan ini, pemilik modal akan berusaha menginvestasikannya untuk usaha-usaha halal yang menguntungkan.(Rifyal, 61:2004)

Dunia ekonomi dalam Islam adalah dunia bisnis atau investasi.Hal ini bisa dicermati mulai dari tanda-tanda eksplisit untuk melakukan investasi (ajakan bisnis dalam Al-Qur’an dan sunah) hingga tanda-tanda implisit untuk menciptakan sistem yang mendukung iklim investasi (adanya sistem zakat sebagai alat disinsetif atas pemupukan harta, larangan ribauntuk mendorong optimalisasi investasi, serta larangan maysir atau judi dan spekulasi untuk mendorong produktivitas atas setiap investasi). Dalam praktiknya, investasi yang dilakukan, baik oleh perorangan, kelompok maupun institusi dapat menggunakan pola nonbagi hasil (ketika investasi dilakukan dengan tidak bekerja sama dengan pihak lain) maupun pola bagi hasil (ketika investasi dilakukan dengan bekerja sama dengan pihak lain).

Di zaman Nabi Muhammad saw. ada empat jenis kekayaan yang dikenakan wajib zakat. Keempat jenis itu adalah uang, barang dagangan, hasil pertanian, seperti gandum dan padi, dan buah-buahan. Disamping itu ada jenis kelima, yang jarang ditermukan, yaitu rikaz (barang temuan atau harta karun yang didapatkan secara kebetulan). Namun, para ulama di zaman modern sepakat bahwa di samping empat jenis tersebut, semua kekayaan yang berkembang secara riil (bernilai atau dipandang bernilai) juga termasuk ke dalam kekayaan yang wajib dizakatkan.

“Ambilah zakat dari harta mereka, yang itu dapat membersihkan dan mensucikan mereka, dan berdoalah untuk mereka, karena do’amu menenteramkan mereka.”(QS. At-taubah, 103)

“Wahai orang-orang yang beriman Nafkahkanlah (sebagai zakat) yang baik dari hasil usahamu dan dari rezeki yang kami keluarkan untukmu di bumi.”(QS. Al-Baqarah, 267)

Kata kerja khuz  (ambilah) dan anfiqu(nafkahkanlah sebagai zakat) dalam kedua ayat tersebut di atas adalah dalam bentuk imperatif (perintah), yang mewajibkan Nabi Muhammad saw. (dan para pengganti beliau dalam mengurus umat) untuk mengambil zakat dari kekayaan umat Islam. Kekayaan mengandung pengertian yang sangat luas, yang mencakup semua harta benda yang dapat dinilai dengan uang.Sedangkan ayat kedua menyangkut zakat semua bentuk usaha yang baik (yang tidak terlarang) dan hasil pertanian secara khusus.Semuanya adalah kekayaan yang dapat berkembang dan mengandung nilai materi.

Dengan demikian, maka kekayaan yang wajib dizakatkan pada waktu ini dapat digolongkan seperti berikut:

  1. Hasil pertanian
  2. Hasil tanaman dan buah-buahan
  3. Tanah al-kharajj (tanah pertanian yang tidak diolah)
  4. Estate dan hasil pengelolaan produksi hewan, pertanian dan peternakan, yang disebut zakat al-musttaqhallat atau al-mal al-mustafad
  5. Binatang ternak (zakat al-an’am)
  6. Barang dagangan (zakat at-tijarah)
  7. Kekayaan
  8. Uang
  9. Emas, perak atau sejenisnya
  10. Perhiasan, barang antik atau sejenisnya
  11. Banknote atau sejenisnya
  12. Piutang, deposito dan anggunan
  13. Kekayaan tambang dan laut
  14. Barang tambang, harta karun dan sejenisnya
  15. Hasil laut dan sungai
  16. Profesi di luar perdagangan, yang disebut al-I’thayat atau al-mal al-mustafad

Kekayaan tersebut terkena zakat bila memenuhi syarat-syarat tertentu : (1) berstatus hak milik di tangan seorang Muslim, (2) berkembang atau dapat berkembang, (3) mencapai nishab (jumlah tertentu), (4) bebas dari utang, (5) melebihi kebutuhan normal, dan (6) mencapai masa satu tahun untuk kekayaan tertentu. (Rifyal, 2004:64-65).

  • Pembahasan

Penerapan Zakat dalam Sistem Ekonomi Islam

Zakat merupakan ketentuan yang wajib dalam sistem  ekonomi Islam (obligatory zakat system), sehingga pelaksanaannya melalui institusi resmi negara yang memiliki ketentuan hukum. Zakat dikumpulkan, dikelola atau didistribusikan melalui lembaga baitulmal.

Ketentuan atau instrumen yang ditetapkan Allah swt.Pada semua aspek kehidupan manusia pada umumnya memiliki dua fungsi utama yang memberikan manfaat bagi individu (nafs) dan kolektif (jama’i). demikian pula halnya dengan sistem zakat dalam ekonomi Islam yang berfungsi sebagai alat ibadah bagi orang yang membayar zakat (muzakki), yang memberikan kemanfaatan individu (nafs),dan berfungsi sebagai penggerak ekonomi bagi orang-orang di lingkungan yang menjalankan sistem zakat ini, yang memberikan kemanfaatan kolektif (jama’i).

Manfaat individu dari zakat adalah bahwa ia akan membersihkan dan menyucikan mereka yang membayar zakat. Zakat akan membersihkan hati manusia dari sifat kekikiran dan cinta harta yang berlebihan, dan Zakat akan menyucikan atau menyuburkan sifat-sifat kebaikan dalam hati manusia. Sementara itu, manfaat kolektif dari zakat adalah bahwa zakat akan terus mengingatkan orang yang memiliki kecukupan harta bahwa ada hak orang lain dalam hartanya. Sifat kebaikan ini yang kemudian mengantarkan zakat memainkan perannya sebagai instrumen yang memberikan kemanfaatan kolektif (jama’i).dengan kelembutan dan kebaikan hati, manusia akan meberikan hartanya pada manusia lain yang membutuhkan. Dengan kata lain, zakat “memaksa” manusia yang memiliki kecukupan harta berinterkasi dengan manusia lain yang kekurangan.

Selain itu, eksistensi zakat dalam kehidupan manusia, baik pribadi maupun kolektif, pada hakikatnya memiliki makna ibadah dan ekonomi. Di satu sisi, zakat merupakan bentuk ibadah wajib bagi mereka yang mampu dari kepemilikan harta dan menjadi salah satu ukuran kepatuhan seseorang pada Allah Swt. Di sisi lain, zakat merupakan variable utama dalam menjaga kestabilan sosial ekonomi agar selalu berada pada posisi aman untuk terus berlangsung.

Dalam perspektif kolektif ekonomi, zakat akan melipatgandakan harta masyrakat. Proses pelipatgandaan ini digunakan karena zakat dapat meningkatkan permintaan dan penawaran di pasar yang kemudian mendorong pertumbuhan ekonomi dan pada akhirnya akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Peningkatan permintaan terjadi karena perekonomian mengakomodasikan golongan manusia tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan minimalnya sehingga pelaku dan volume pasar dari sisi permintaan meningkat. Distribusi zakat pada golongan masyarakat kurang mampu akan menjadi pendapatan yang membuat mereka memiliki daya beli atau memiliki akses pada perekonomian. Sementara itu, peningkatan penawaran terjadi karena zakat memberikan disinsentif bagi penumpukan harta diam (tidak diusahakan atau idle) dengan mengenakan ‘potongan’ sehingga mendorong harta untuk diusahakan dan dialirkan untuk investasi di sektor riil. Pada akhirnya, zakat berperan besar dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi secara makro.

Dengan adanya mekanisme zakat, aktivitas ekonomi dalam kondisi terburuk sekalipun dipastikan akan dapat berjalan paling tidak pada tingkat yang minimal untuk memenuhi kebutuhan primer. Oleh karena itu, instrumen zakat dapat digunakan sebagai perisai terkahir bagi perekonomian agar tidak terpuruk pada kondisi krisis di mana kemampuan konsumsi mengalami stagnasi (ubdercosumtion).Zakat memungkinkan perekonomian terus berjalan pada tingkat yang minimum, kecuali kebutuhan konsumsi minimum dijamin oleh dana zakat.

Chapra dan Sakti sebagaimana dikutip Ascarya (2015:10), menjelaskan bahwa pengaruh zakat terhadap perekonomian ini sebenarnya dapat dijelaskan dengan pendekatan moneter (MV=PT) yang dimiliki aliran monetaris dalam ekonomi konveksional. Monetaris menyebutkan aliran monetaris dalam ekonomi konveksional. Monetaris menyebutkan bahwa dengan asumsi velocity of money (V) tetap dan full employment (Y) terpenuhi, ekonomi akan terpengaruh melalui kebijakan peningkatan money stock (M) melalui peningkatan harga (P). Monetaris dengan teori kuantitas uang ini memang berpendapat bahwa kebijakan uang yang beredar tidak akan mempengaruhi sektor riil karena peningkatan uang beredar hanya akan menaikkan harga tanpa ada efek pada volume produksi, jumlah tenaga kerja dan variabel riil lainnya. Terpisah sektor moneter dan riil ini dikenal dengan istilah classical dichotomy.Monetaris beranggapan bahwa peningkatan sekotor riil harus melalui penambahan faktor-faktor produksi atau teknologi.

Dari penjelasan diatas, secara ringkas penerapan sistem zakat akan berdampak positif di sektor riil dalam beberapa hal, antara lain:

  1. Zakat menjadi mekanisme baku yang menjamin terdistribusinya pendapatan dan kekayaan sehingga tidak terjadi kecenderungan penumpukann faktor produksi pada sekelompok orang yang berpotensi menghambat perputaran ekonomi.
  2. Zakat merupakan mekanisme perputaran ekonomi (velocity) itu sendiri yang memelihara tingkat permintaan dalam ekonomi. Dengan kata lain, pasar selalu tersedia bagi produsen untuk memberikan penawaran. Dengan begitu, sektor riil selalu terjaga pada tingkat yang minimum tempat perekonomian dapat berlangsung karena interaksi permintaan dan penawaran selalu ada. Pentingnya perputaran ini tergambar dalam rumusan MV=PT dari golongan monetaris konvensional.
  3. Zakat mengakomodasikan warga negara yang tidak memilliki akses ke pasar karena tidak memiliki daya beli atau modal untuk kemudian menjadi pelaku aktif dalam ekonomi sehingga volume aktivitas ekonomi relatif lebih besar (jika dibandingkan dengan aktivitas ekonomi konvensional).

Dengan meningkatnya permintaan agregrat dan kemudian disusul dengan meningkatnya penawaran agregat dari waktu ke waktu, zakat dalam perekonomian akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Dalam ekonomi konvensioanl, motif aktivitas ekonomi mengarah kepada pemenuhan keinginan(wants)individu manusia yang tidak terbatas dengan menggunakan faktor-faktor produksi yang terbatas. Akibatnya, masalah utama ekonomi konvensional adalah kelangkaan (scarcity) dan pilihan (choices).

Dalam Islam, motif aktivitas ekonomi Islam lebih diarahkan pada pemenuhan kebutuhan dasar (needs) yang tentu ada batasnya, meskipun bersifat dinamis sesuai tingkat ekonomi masyarakat pada saat itu. Sementara itu, dari berbagai ayat Al-Qur’an (seperti pada surat Lukman:20, Al-Nahl: 5 dan 11, dan Al-Najm: 48), ditegaskan bahwa segala yang ada di langit dan di bumi akan dapat mencukupi kebutuhan manusia.

Selain itu, kepuasan dalam Islam tidak hanya terbatas pada benda-benda konkret (materi), tetapi juga tergantung pada sesuatu yang bersifat abstrak, seperti amal saleh yang dilakukan manusia. Oleh karena itu, perilaku ekonomi Islam tidak didominasi oleh nilai alami yang dimiliki oleh setiap individu manusia, tetapi ada nilai di luar manusia yang kemudian membentuk perilaku ekonomi mereka, yaitu Islam itu sendiri yang diyakini sebagai tuntunan utama dalam hidup dan kehidupan manusia. Jadi, perilaku ekonomi dalam Islam cenderung mendorong keinginan pelaku ekonomi sama dengan kebutuhannya, yang dapat direalisasikan dengan adanya nilai dan norma dalam akidah dan akhlak.

Dengan demikian, ekonomi dalam Islam adalah ilmu yang mempelajari segala perilaku manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya dengan tujuan memperoleh fallah (kedamaian dan kesejahteraan dunia-akhirat).Perilaku manusia di sini berkaitan dengan landasan-landasan syariah sebagai rujukan berperilaku dan kecenderungan-kecenderungan dari fitrah manusia.Kedua hal tersebut berinteraksi dengan porsinya masing-masing sehingga terbentuk sebuah mekanisme ekonomi yang khas dengan dasar-dasar nilai ilahiah.Akibatnya, masalah ekonomi dalam Islam adalah masalah menjamin berputarnya harta di antara manusia agar dapat memaksimalkan fungsi hidupnya sebagai hamba Allah Swt. untuk mencapai fallah di dunia dan akhirat (hereafter).Hal ini berarti bahwa aktivitas ekonomi dalam Islam adalah aktivitas kolektif, bukan individu.

Selanjutnya prinsip-prinsip ekonomi Islam yang sering disebut dalam berbagai literatur ekonomi Islam dapat dirangkum menjadi lima hal, yaitu:

  1. Hidup hemat dan tidak bermewah-mewah (abstain from wasteful and luxurious living);
  2. Menjalankan usaha-usaha yang halal (premissble conduct);
  3. Implementasi zakat (implementation of zakat);
  4. Penghapusan/pelarangan riba (prohibiton of riba); dan
  5. Pelarangan maysir (judi/spekulasi).

Berdasarkan penjelasan di atas sistem ekonomi Islam berbeda dengan sistem ekonomi konvensional.Sesuai dengan paradigma ini, ekonomi dalam Islam tak lebih dari sebuah aktivitas ibadah dari rangkaian ibadah pada setiap jenis aktivitas hidup manusia. Jadi, dapat disimpulkan bahwa ketika ada istilah ekonomi Islam, yang berarti beraktivitas ekonomi menggunakan aturan dan prisnip Islam, dalam aktivitas ekonomi manusia, maka ia merupakan ibadah manusia dalam berekonomi. Dalam Islam, tidak ada sesi kehidupan manusia yang tidak ada nilai ibadahnya sehingga tidak ada sisi hidup dan kehidupan manusia yang tidak diatur dalam Islam.

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyebah-Ku .”

Sebagai gambaran, perbedaan ekonomi konvensional (kapitalis) dan ekonomi Islam.

Table 1 : Perbedaan Ekonomi Islam dan Ekonomi Konvensional

No Issu Islam Konvensional  
1. Sumber AlQuran Daya Fikir Manusia
2. Motif Ibadah Rasional Materialism
3. Paradigma Shariah* Pasar*
4. Pondasi Dasar Muslim* Manusia Ekonomi*
5. Landasan Filosofi Falah* Utilitarian Individualism*
6. Harta Pokok Kehidupan Asset
7. Investasi Bagi Hasil Bunga
8. Distribusi Kekayaan Zakat, Infaq, Shodaqoh, Hibah, Wakaf & Warisan Pajak dan tunjuangan
9. Konsumsi Mashlahah, Kebutuhan & Kewajiban Egoism, Materialisme & Rasionalism
10. Mekanisme Pasar Bebas & Dalam Pengawasan Bebas
11. Pengawasan Pasar Al-Hisbah NA
12. Fungsi Negara Penjamin Kebutuhan Minimal & Pendidikan Pembinaan melalui Baitul Mal Penentuan Kebijakan melalui Departemen-depatemen
13. Bangunan Ekonomi Bercorak Perekonomian Riil Dikotomi Sektoral yang sejajar Ekonomi Riil dan Moneter
  • Kesimpulan

Zakat sebagai pembersih dan pemanis harta merupakan kewajiban setiap muslim yang memenuhi syarat untuk itu. Ia dipungut dari warga Muslim yang mempunyai kemampuan ekonomi lebih untuk disalurkan kepada warga yang membutuhkannya sesuai dengan ketentuan yang telah digariskan dalam Al-Qur’an dan sunah.

Dalam kekayaan seseorang ada hak orang lain. Hal itu, karena Islam berbeda dari sistem-sistem yang lain, mamandang hak milik sebagai kepunyaan Allah dan manusia hanyalah sebagai pemegang guna, yang harus memanfaatkannya sesuai dengan tuntunan penggunaan hak tersebut dari Allah. Untuk itu, Islam menggariskan berbagai institusi keuangan, seperti sedekah, hibah, infak, wakaf, dan zakat yang bertujuan menjaga keutuhan dan harmonisasi dalam masyrakat.Sebagian dari institusi-institusi ini bersifat anjuran.Namun keadilan ekonomi tidak mungkin ditegakkan dengan mengandalkan kebaikan hati semata.Karena itu, Islam mewajibkan zakat kepada semua warga Muslim yang mempunyai kekayaan melebih kebutuhan asasinya.

DAFTAR PUSTAKA

Agustianto, 2014.Reaktualisasi dan Kontekstualisasi Fikih Mua’malah Ke-Indonesian Upaya Inovasi Produk Perbankan dan Keuangan Syariah, Ciputat: Iqtishad Publishing

Ali, Zainuddin, 2010. Hukum Perbankan Syariah, Jakarta: Sinar Grafika

Antonio, Muhammad Syafi’I, 2001. Bank Syariah dari Teori ke Praktik. Jakarta: Gema Insani Press

Ascarya, 2015.Akad & Produk Bank Syariah, Depok: Raja Grapindo Persada

Ash-Shawi, Shalah dan Abdullah  Al-Mushlih, 2013. Fikih Ekonomi Islam, Jakarta: Darul Haq

Ka’bah, Rifyan. 2004. Penegakan Syariat Islam di Indonesia. Jakarta: Khoirul Bayan.

Mudjib, Abdul. 1992. Al-Qowaidul Fighiyyah. Surabaya: Danaloka.

Undang Undang Zakat Nomor 38 Tahun 1999

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

id_IDIndonesian
id_IDIndonesian
%d blogger menyukai ini: