Membincang Seksualitas dalam Islam

Ilustrasi: Islam.nu.or.id.

Oleh: Daan Dini Khairunida (Dosen STAI Haji Agus Salim Cikarang)


Sejarah seksualitas sudah ada sejak diutusnya manusia ke dunia. Sejak Nabi Adam as. diturunkan ke bumi, kisah pertemuannya dengan Hawa bahkan diabadikan dalam ibadah haji.

Seksualitas dalam masyarakat sesungguhnya sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti faktor biologis, psikologis, sosial, ekonomi, politik, agama, hingga spiritualitas. Namun, hingga saat ini, berbicara tentang seksualitas menjadi sangat tabu; dianggap tidak pantas dibicarakan di area publik. Dalam tulisan ini, pembicaraan seksualitas akan dibawa berkaitan dengan agama. Bagaimana akhirnya agama Islam mengatur seksualitas dalam hukum pernikahan hingga poligami.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), seksualitas diartikan sebagai: (1) ciri, sifat, atau peranan seks, (2) dorongan seks dan (3) kehidupan seks. Berbagai ayat dan hadis banyak juga membahas tentang seksualitas. Namun sayangnya secara literal banyak penafsirannya mengarah pada subordinasi perempuan. Beberapa ayat Al-Qur’an menyebutkan superioritas laki-laki atas perempuan dan ini menjadi alasan masyarakat untuk menekan seksualitas perempuan dan menempatkannya sebagai objek. Padahal, jika kita menggali lagi sejarah Nabi, seperti misalnya ketika Siti Khadijah yang melamar Nabi untuk menjadi suaminya, ini merupakan representasi seksualitas perempuan aktif yang kadang sampai sekarang dipandang negatif bahwa tak sepantasnya perempuan aktif.

Bicara seksualitas maka bicara tubuh perempuan dan diskusi ini tak ada matinya hingga akhir zaman. Bagaimana misalnya diskursus jilbab untuk menutupi aurat perempuan yang diterjemahkan untuk fungsi kontrol agar laki laki tidak terpancing hasrat seksualitasnya. Padahal dalam sejarah di balik ayat tersebut disebutkan bahwa jilbab sesungguhnya untuk identitas antara perempuan beriman dan perempuan musyrik. Tidak ada embel-embel syahwat di sana.

Bagaimana Al-Quran sebagai kitab suci berbicara tentang seksualitas? Tentu saja hal ini terkait dengan pola relasi laki-laki dan perempuan di dalam Islam. Ranahnya adalah seputar perkawinan, perceraian, relasi pergaulan suami-istri di dalam rumah tangga, masa tunggu sesudah bercerai (idah) hingga persoalan yang menyangkut poligami dan homoseksualitas.

Baca juga: Belajar Ikhlas

Kitab suci membingkai urusan seksualitas di dalam Islam hanya boleh dilakukan melalui lembaga perkawinan. Hubungan seksual yang dilakukan di luar perkawinan dianggap ilegal disebut sebagai zina. “Dan janganlah kamu mendekati zina karena itu sekeji-kejinya perbuatan.” (QS Al-Isra [17]: 32). Bahkan di tulisan di dalamnya tentang membatasi kepemilikian istri menjadi maksimal empat.

Islam adalah agama yang sesungguhnya ingin mendongkrak maka “kepemilikan” tubuh perempuan dari sebagai objek seksualitas menjadi dia seutuhnya sebagai sama-sama manusia dengan hak seksualitas yang sama. Ketika dulu zaman jahiliah, perempuan dapat dinikahi hingga ratusan dengan fungsi properti, tubuh yang digunakan untuk memuaskan hasrat seksual laki laki, Islam datang dengan hukum pernikahan bahwa laki-laki dan perempuan dapat halal dan legal berhubungan untuk menuju ketenteraman batin dan biologis, juga untuk tujuan regenerasi. Jadi bukan semata untuk pelampiasan nafsu.

Islam datang juga mengangkat harkat perempuan dengan membuat aturan mahar, saksi hingga perjanjian pascanikah dan dibencinya perceraian. Pun sesungguhnya dengan sebuah ikatan pernikahan dan tujuannya makanya diskursus tentang poligami mengarahkan bahwa poligami sesungguhnya tidak Islami jika tujuan poligami hanya untuk menghindari perzinahan semata dan solusi jika istri pertama dianggap tak mampu lagi melakukan aktivitas seksual. Berdasarkan sunah Rasul, Rasulullah melakukan poligami adalah untuk memelihara yatim dan membantu janda-janda pascaperang. Hal ini dilakukannya ketika menerima lamaran Saodah pascawafatnya Khadijah. Ia lebih memilih Saodah yang usianya sudah di atas 60 tahun dengan enam yatim dibanding Aisyah yang masih gadis ketika Khawlah datang kepadanya. Meski kemudian Rasulullah menikahi Aisyah hal ini juga disiratkan dengan tujuan politis karena Aisyah adalah anak sahabatnya (Abu Bakar) dan ketiadaan anak dari Aisyah mengisyaratkan juga bahwa niat Rasul menikahi Aisyah bukan dorongan seksualitas semata, namun landasan sosio-politis.

Semangat yang ingin dibangun dalam Islam adalah memartabatkan manusia dalam resapan-resapan cinta melalui hubungan perkawinan sebagai hal alami yang naluriah. Ada relasi yang setara dan seimbang sebagai prasyarat mutlak yang harus diketahui untuk mencapai tujuan harmoni, bermartabat, dan bermoral. Metafora indah “mereka [para istri itu] adalah pakaian bagimu dan kamu adalah pakaian bagi mereka.” (QS Al-Baqarah [1]: 187) menunjukkan bahwa masing-masing relasi adalah resiprokal seimbang. Pakaian bersifat menutupi, memperindah, dan melindungi. Seyogianya demikian pula dalam relasi suami-istri. Kasih sayang dan cinta kasih adalah perlambang adibusana, karenanya suami-istri secara moral dilarang saling menyakiti, secara moral harus menghargai dan menghormati satu sama lain dengan menghindari hegemoni-dominasi, termasuk dalam urusan seksual.

Sejarah hidup Nabi mengisahkan perkawinannya dengan Siti Khadijah didahului oleh lamaran yang dilakukan Khadijah. Bukan oleh Nabi sendiri, melainkan Khadijah yang meminta. Perkawinannya dilandasi cinta dan saling penghormatan. Garis bawah dari sejarah ini telah mencatat bahwa Khadijah-lah yang aktif dan Nabi pasif menerima. Terlepas dari status kelas yang melekat pada diri Khadijah sehingga yang bersangkutan dimungkinkan memiliki “daya aktif” melamar, di situ sekali lagi memperlihatkan ada keterlibatan perempuan dalam tindakan “memulai lebih dulu” terhadap pasangannya. Tidak ada penolakan sama sekali dari Nabi, artinya tidak ada yang perlu dipermasalahkan. Landasan ini pulalah yang dapat dipakai sebagai teropong bahwa dalam kehidupan seksual suami-istri, kedua belah pihak setara, tidak selalu suami yang aktif, tetapi istri pun harus aktif. Tidak ada ordinat dan subordinat dalam relasi perkawinan Nabi dan Khadijah. Bahkan tidak mempermasalahkan status diri Khadijah sebelum menikah dengan Nabi.
 
Akhirnya, dapat disimpulkan bahwa ketika bicara seksualitas dalam Islam tidak bisa lepas dari diskusi tentang tubuh perempuan, diskusi tentang bagaimana Islam mengatur hidup manusia hingga masalah hasrat biologisnya. Perlu ada cara pandang yang beda bahwa pernikahan dalam Islam mengatur pernikahan juga untuk sebuah tatanan sosial yang adil dan egaliter tanpa merendahkan laki atau perempuan satu sama lain, namun saling menghormati dan saling memperindah sebagaimana layaknya sebuah pakaian yang mampu menghiasi tubuh dan menutup segala kekurangan.


Daftar Pustaka:
Mochamad Sodik (ed.), Telaah Ulang Wacana Seksualitas, Yogyakarta: PSW IAIN Sunan Kalijaga. 2004.
Irwan Abdullah, Nasaruddin Umar, dkk, Islam dan Konstruksi Seksualitas, Yogyakarta: PSW IAIN Sunan Kalijaga. 2001.
Abdul Moqsit Ghozali, Badriyah Fayumi, dkk, Tubuh, Seksualitas, dan Kedaulatan Perempuan; Bunga Rampai Pemikiran Ulama Muda, Cirebon: Rahima. 2002.
Jurnal Perempuan edisi 15, “Wacana Tubuh Perempuan”. 2001.

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

id_IDIndonesian
id_IDIndonesian
%d blogger menyukai ini: