Kesadaran Sosial Berskala Besar dengan Tunaikan Zakat

Oleh: Nasri Kurniallah

Ketika dunia sedang terisolasi karena wabah Covid-19 dan pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), menyebabkan banyak orang merasa kesulitan mencari nafkah untuk keluarga. Di sisi lain, bantuan pangan dari pemerintah dianggap kurang memadai, maka di sinilah harusnya zakat mengambil peranan untuk menghidupkan kembali roda perekonomian dalam kehidupan umat manusia. 

Namun, jika dilihat dari kondisi saat ini yang sedang terjadi pandemi Covid-19, maka bukan hanya pemerintah saja yang bertanggung jawab dalam mengatasi hal ini. Seperti yang kita ketahui bahwa pandemi ini terjadi di bulan suci Ramadan 1441 Hijriah yang di mana umat Muslim diwajibkan untuk menunaikan ibadah zakat fitrah bagi yang mampu.

Zakat sendiri dapat membantu pemerintah dalam mengatasi berbagai masalah, terutama dalam aspek ekonomi. Bahkan sejak awal Ramadan, Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah mengeluarkan fatwa untuk pemanfaatan zakat dalam penanggulangan pandemi Covid-19 dan dampaknya. MUI juga menyebutkan bahwa dampak dari pandemi ini tidak hanya terhadap kesehatan saja, melainkan aspek ekonomi, sosial, budaya, dan lain sebagainya juga akan sangat berdampak.

Sejatinya zakat adalah satu-satunya ibadah yang melibatkan hubungan antara manusia dengan Allah SWT (hablumminallah), dan hubungan interaksi antara manusia dengan manusia (hablumminannas). Penulis menyebut ibadah zakat adalah bentuk kesalehan humanis.

Zakat menurut bahasa artinya bersih, tumbuh dan berkembang. Sebagaimana Allah Swt tegaskan dalam Q.S. At-Taubah, [09]: 103:

 Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui

Konteks bersih dalam Q.S AtTaubah 103 dapat diartikan zakat tidak hanya sekadar membersihkan harta, tetapi juga membersihkan manusia dari sifat kekikiran dan ketidakpedulian pada sesama. Di mana dalam masa wabah korona ini, setiap orang sudah waktunya memperhatikan sekelilingnya dan berempati terhadap kesusahan orang lain dengan menunaikan zakat.

Zakat menimbulkan ketenteraman jiwa. Saat banyak orang kesulitan memenuhi kebutuhan dasar hidupnya dikarenakan terbatasnya akses untuk mencari nafkah sebab social distancing. Ditambah lagi ketidakpedulian umat di sekitarnya, maka yang terjadi adalah tingginya tingkat kriminalitas. Perampokan, pembegalan dan pencurian adalah masalah sosial yang harus diselesaikan, salah satunya dengan pemberian zakat.

Ketika zakat telah ditunaikan, maka tindakan kriminal dapat terselesaikan. Sesusah apapun tidak ada seorang pun yang tega mencuri barang milik tetangga yang peduli dan memperhatikannya, yang terjadi adalah mereka saling menjaga, dengan sendirinya timbullah ketenteraman di lingkungan tersebut. Sehingga bumi menjadi tempat tinggal bersama yang nyaman.

Zakat sendiri terbagi menjadi dua, yaitu: Pertama, zakat fitrah disebut zakat diri. Jumlahnya 2,5 kilogram makanan pokok atau uang setara tersebut, yang diberikan saat awal Ramadan hingga sebelum berlangsungnya salat Idul Fitri. Kedua, zakat mal disebut juga zakat harta. Dikeluarkan jika sudah sampai nisabnya (jumlah tertentu sesuai ketetapan syariat), dan telah mencapai haul (satu tahun).

Dengan kesadaran mengeluarkan zakat dari para orang yang berzakat (muzzaki) kepada orang yang mustahik (orang yang menerima zakat). Maka efek buruk masalah sosial yang timbul dari pandemi korona dapat terselesaikan secara baik.

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

id_IDIndonesian
id_IDIndonesian
%d blogger menyukai ini: