Belajar Ikhlas

arabic
Ilustrasi: Freepik.com

Kita sering mendengar kata-kata “ikhlas” di saat berbagai musibah datang bertubi-tubi. Seakan-akan dengan kata “ikhlas” berbagai duka lara dapat terobati. Bahkan, tidak jarang kata “ikhlas” juga digunakan di saat apa yang kita damba tidak sesuai dengan realita. Ujungnya, ya, ikhlas!

Meski sering terucap, mengamalkan ikhlas bukanlah perkara mudah karena setidaknya ada beberapa langkah yang harus kita lalui agar dapat menjalankannya:

1. Ikhlas harus bermula dari kesadaran bahwa kita berasal dari tiada, alias nol. Maka, di saat ingin belajar ikhlas, langkah pertama yang harus dilakukan adalah dengan mengembalikan diri kita kepada titik nol, seperti dulu di saat nama belum kita sandang, atau sukses dan gagal belum kita raih. Dalam posisi ini kesadaran kita menjadi netral. Tidak bangga karena dipuji dan tidak emosi karena dicacimaki.

2. Setelah melakukan pengosongan, isilah “yang kosong” dengan hal-hal yang mengundang kepada keluasan hati (abundant mentality). Kita adalah pemilik hati ini, maka jangan pernah kita izinkan hati kita dilukai. Meski penderitaan yang dating, toh kita bisa memilih untuk tetap netral hatinya. Kita akan membuka pintu hati kita kepada hal-hal yang membuat kita menjadi positif dan terus bertumbuh. Jika tidak, tentu hak kita juga untuk menutup rapat-rapat hati kita dari yang akan membuatnya terluka.

3. Setelah melewati pengisian hati dan kesadaran dengan hal-hal yang positif, tumbuhkanlah kemudian nilai-nilai ilahiah dalan diri kita. Dengan nilai-niali inilah kita akan memiliki kemampuan memandang segalanya dari hakikatnya; dengan nilai-nilai ilahiah inilah hati kita akan semakin lembut dan tumbuh di atasnya berbagai nilai luhur manusia seperti ikhlas, sabar dan syukur.

Baca juga: Banjir dan Ujian: Naik Kelaskah Kita?

So, jika kita mau menempuh jalan ikhlas dalam hidup, tidak salah jika kita mencoba untuk mempraktikkan jalan-jalan tersebut, yang dalam bahasa tasawuf disebut jalan takhalli, tahalli dan tajalli.

Selamat mencoba untuk belajar ikhlas!

Salam Milenial Hijrah

Penulis: Aan Rukmana (Dosen Falsafah dan Agama Universitas Paramadina dan Dewan Ahli Alqolam.id)

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

id_IDIndonesian
id_IDIndonesian
%d blogger menyukai ini: