Banjir dan Ujian: Naik Kelaskah Kita?

Skenario Allah Swt. telah tertulis di lauhil mahfuz. Semua peristiwa di muka bumi ini telah ditetapkan-Nya. Itulah yang dinamakan takdir. Seperti musibah banjir yang kembali terjadi di belahan bumi Indonesia, seperti di Jakarta, Bekasi, Karawang, Subang dan sekitarnya. Terjadi di awal Rajab 1441 H, bertepatan pada tanggal 25 Februari 2020. Banyak rumah didatangi air secara cepat melalui limpasan air dari sungai. Memang sangat berat menerimanya, tetapi harus diterima dengan rida dan legawa.

Musibah banjir merupakan ujian dari Allah Swt. Tidak ada seorang pun yang mampu memrediksi kapan terjadinya. Bahkan di era digital seperti sekarang ini, tidak ada perangkat software atau pun hardware yang canggih yang mampu mendeteksi terjadinya banjir. Air mengalir deras easy come easy go. Benar-benar sulit diperkirakan.

Bagi kita umat beriman, fenomena alam ini wajib kita yakini sebagai ujian keimanan. Apakah kita sabar menerima atau galau dan ngarasulah? Di sinilah indikator keimanan seseorang. Dulu tahun 2014, kediaman saya pun sama digenangi banjir hingga berkisar 50 cm, selama hampir empat hari; datangnya dua tahap. Sekali lagi, tak ada seorang pun yang mampu mendeteksi kapan terjadinya banjir, dan kapan finish-nya banjir. Inilah ujian keimanan yang diberikan Allah SWT kepada hamba yang taat. Juga sebagai bentuk refleksi dinamis bisa jadi perbuatan yang telah dilakukan di luar koridor ketaatan kepada Allah Swt. Di sisi lain, banyak manusia yang merusak ekosistem sehingga banjir kembali terjadi. Follow up dari hal ini idealnya kita semua bertaubat dan kembali taat kepada-Nya.

Baca juga: MENJAGA EKSISTENSI PENGAJIAN YASIN

Saat sudah meyakini bahwa banjir merupakan ujian keimanan, hasilnya kita akan memetik hikmah. Semakin menyadari, setiap diri tak berdaya bila dibandingkan dengan kekuasaan Allah Swt. Rumah mewah dan bertingkat, mobil lux dan mahal serta harta lain saat sudah direndam banjir tak akan berarti apa-apa. Semua seakan tidak berharga. Yang paling bermanfaat hanya diri yang dekat dengan Allah Swt. Saat itulah kita termasuk insan yang lulus ujian. Akhirnya naik kelas menjadi insan berkarakter sabar—sabar menerima ujian. Itulah sokoguru mahatinggi yang akhirnya kebahagiaan akan kita raih. Banjir merupakan ujian, membuat kita naik kelas. Menjadi insan bersabar. Akhirnya selalu bertawakal dalam menghadapi hidup ini. Sebagaimana Allah Swt. mengingatkan : “Apa yang di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl: 96).

Semoga kita semua termasuk insan tangguh, menjadikan sabar sebagai perisai kehidupan. Dan kita termasuk insan yang naik kelas. Wallahu ‘Alam.

Sebuah goresan Literasi Spiritual.

Penulis: Wahyudin, NS. (Praktisi Pendidikan Islam dan Dakwah dan penulis buku Jejak Mualaf Literasi

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

id_IDIndonesian
id_IDIndonesian
%d blogger menyukai ini: